Kredit di Bank Syariah

Ivan Irawan, Wirausahawan dan Praktisi TI Perbankan Syariah

Pertanyaan

Ruwetnya Kredit di Bank Syariah

Saya merasa kredit di Bank Syariah itu malah berbelit-belit. Ini contoh betapa ruwetnya membeli motor lewat bank syariah. Bank pemberi kredit membeli motor dari dealer. Karena pembayarannya dicicil, motor tersebut dijual kepada kita dengan harga lebih mahal. Jadi disini tidak ada “bunga”, tapi tetap saja yang meminjam mencicil lebih mahal. Contohnya, bank membeli Rp 10 juta, lalu dijual Rp 17 juta, dengan cara dicicil setiap bulan sampai lunas.

Bagaimana jika meminjam dengan jaminan? Caranya mirip di atas. Jaminan yang kita agunkan dibeli oleh bank, lalu dijual lagi ke kita dengan harga lebih mahal ketimbang saat dibeli. Misalnya, saya meminjam ke bank dengan mengagunkan rumah yang harganya ditaksir Rp 100 juta. Bank membeli rumah saya tersebut seharga Rp 100 juta. Setelah itu rumah yang diagunkan itu “dijual” lagi kepada saya, tapi dengan harga yang lebih mahal, yaitu Rp 140 juta. Lantas kita mencicil setiap bulan hingga lunas. Tidak ada bunganya kan?

Achmad Bahagia , Jakarta

Jawaban

Pak Achmad, pembiayaan secara syariah untuk pembelian motor umumnya dilakukan dengan skim jual beli murabahah. Dalam hal ini peran bank syariah adalah sebagai pedagang perantara untuk motor. Proses yang terjadi seperti yang Pak Achmad ceritakan dan itu adakah proses jual beli seperti yang kita kenal dan jalani selama ini.

Prinsipnya, dalam jual beli, pedagang akan mengambil manfaat berupa margin atau keuntungan yang didapatkan dari selisih harga jual dan harga beli barang. Harga jual pasti diusahakan lebih tinggi dari harga beli agar pedagang dapat hidup dari kegiatan jual beli.

Sebagaimana pedagang, Bank Syariah dalam kegiatan pembiayaan jual beli murabahah juga menentukan margin yang wajar dari kegiatan jual beli, apalagi Bank Syariah memberikan kemudahan kepada nasabah berupa pelunasan barang secara cicilan. Bank Syariah bukanlah lembaga non profit sehingga tetap membutuhkan keuntungan dari usaha jual beli yang dilakukannya untuk membiayai operasional usaha. Pertanyaannya yang muncul adalah berapa margin yang dianggap wajar oleh kedua pihak (bank syariah dan nasabah)? Apakah mengacu pada suku bunga pembiayaan bank konvensional? Pembahasan mengenai hal ini akan cukup panjang dan menurut saya lebih bijaksana jika dibahas secara terpisah.

Skim jual beli murabahah ini memiliki perbedaan signifikan dengan skim kredit pembelian barang bank konvensional. Perbedaan terbesar adalah pada prinsip kepastian harga jual barang oleh bank (harga perolehan nasabah). Harga perolehan nasabah tidak akan berubah selama proses pembiayaan sehingga cicilan nasabah tidak akan terpengaruh oleh naik turunnya suku bunga bank. Kondisi ini sangat terasa menguntungkan nasabah bank syariah terutama ketika masa krisis moneter di tahun 1997. Saat itu suku bunga pada bank konvensional melonjak tinggi karena bank umum berusaha menghindari negative spread (selisih suku bunga pinjaman dengan suku bunga dana yang negatif) akibat tingginya cost of fund dana pada masa-masa minimnya likuiditas bank. Cicilan nasabah bank syariah tidak terpengaruh oleh kondisi ini, kebalikannya nasabah bank konvensional babak belur dengan cicilan yang tiba-tiba melonjak tinggi.

Bagaimana jika nasabah bank syariah ingin melunasi barang terlebih sebelum masa pembiayaan berakhir? Bank syariah terbuka kemungkinan memberikan diskon harga barang (muqasah) terhadap nasabah, sehingga nasabah tidak perlu membayar sebesar harga perolehan yang disepakati dalam akad pembiayaan.

Untuk kasus kedua, saya sendiri tidak melihat dan tidak memiliki pengalaman bahwa praktek ini lazim digunakan di bank syariah untuk maksud ”meminjam dengan jaminan”. Skim semacam ini biasanya digunakan untuk keperluan take-over kredit pembelian barang. Misalkan untuk proses pengambilalihan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), maka bank syariah harus membeli terlebih dahulu rumah tersebut. Caranya bisa dengan memberikan dana talangan kepada nasabah untuk melunasi KPR di bank konvensional, kemudian nasabah menjual rumahnya kepada bank syariah untuk melunasi dana talangan bank syariah. Rumah tersebut oleh Bank Syariah kemudian dijual kembali kepada nasabah secara cicilan (akad murabahah) atau disewakan dengan opsi beli (akad Ijarah Muntahiyya Bit-Tamlik).

Satu hal yang menarik dari pembiayaan secara syariah melalui skim jual beli ini adalah mampu menghindari terjadinya penyimpangan pada proses pembiayaan sehingga semua pihak yang terlibat mendapatkan keuntungan. Dalam fungsi sebagai pedagang, Bank Syariah akan selalu berusaha mendapatkan barang dengan kualitas terbaik karena terkait dengan kredibilitas bank. Pada akhirnya nasabah akan mendapatkan barang dengan kualitas yang dijamin pula oleh kredibilitas bank syariah/lembaga pembiayaan syariah.

Dari sisi skim, proses pembiayaan di Bank Syariah sekilas terlihat lebih ruwet. Pada pelaksanaannya sesungguhnya nasabah tidak perlu harus ikut ruwet dan repot karena proses tersebut dapat disiapkan oleh pihak Bank Syariah bersama pihak terkait dalam pembiayaan. Setelah nasabah mengajukan pembiayaan, Bank Syariah akan melakukan verifikasi terhadap nasabah dan arus keuangannya. Jika pembiayaan dapat disetujui, maka Bank Syariah akan menyiapkan semua proses pengadaan barang dan setelah siap, nasabah cukup datang untuk menandatangani akad pembiayaannya dan mendapatkan barang yang diinginkan. Bank Syariah dapat pula mewakilkan pembelian barang tersebut kepada nasabahnya melalui akad wakalah, sehingga nasabah dapat melakukan pembelian barang sendiri atas nama Bank Syariah.

Melihat hal di atas, saya berharap Pak Achmad tidak perlu khawatir harus repot dan ruwet dalam mengurus pembiayaan di Bank Syariah.

niriah.com

sumber : http://www.niriah.com/konsultasi/finansial/4id11.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *