Akad Nikah dan Walimatul ‘Ursy

Penulis : Adinda Poetri

Narasumber : Dwi Wahyuni S (Disampaikan pada KOL Jum’at, 14 Agustus 2009)

Alhamdulillah, setelah beberapa waktu yang lalu kita bahas tentang taaruf sampai kepada khitbah, sekarang saatnya kita bahas akad nikah dan walimatul ‘Ursy.

Ketika taaruf antara ikhwan dan akhwat sudah semua disepakati, maka disunahkan untuk segera mengkhitbahnya, dan segera dilangsungkan akad nikah untuk menghindari fitnah.

Akad Nikah

Perlu kita ketahui bahwa dalam akad nikah hal-hal yang disyariatkan dan wajib ada adalah :

Yang ke 1 : Adanya suka sama suka antara kedua calon mempelai

Yang ke 2 : Adanya Wali

Yang ke 3 : Adanya Saksi

Yang ke 4 : Adanya Mahar

Yang ke 5 : Adanya Ijab Qabul

Dan menurut sunnah, sebelum akad nikah dimulai, terlebih dahulu diadakan khutbah yang dinamakan “Khutbatun nikah”

Berikut sedikit penjelasannya dari ke 5 unsur yang diwajibkan ada tersebut

Suka sama suka antara kedua calon mempelai adalah sebuah keharusan, karena mereka berdua yang akan menjalani hidup berumah tangga maka dibutuhkan keikhlasan diantara keduanya. Maka taaruf sebelum pernikahan dan melihat calon sebelum pernikahan sangat dianjurkan

Wali sebagaimana kita tahu adalah ayah dari calon mempelai wanita yang seagama, jika tidak ada maka bisa digantikan oleh kakak tertua yang laki-laki, atau jika memang sudah tidak ada sama sekali orang yang bisa dijadikan wali, maka diambilah wali hakim (Wali hakim adalah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah dengan syarat sudah tidak ada lagi yang bisa mewakili atau menjadi wali bagi calon mempelai wanita).

Saksi berfungsi sebagai alat bukti apabila ada pihak ketiga yang meragukan perkawinan tersebut. Juga mencegah pengingkaran oleh salah satu pihak. Syarat sebagai saksi nikah adalah laki-laki, muslim, adil, balig, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu. Saksi nikah minimal harus dua dan hadir serta menyaksikan secara langsung akad nikah, menandatangani akta nikah pada waktu dan tempat akad nikah dilangsungkan.

Mahar merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan yang dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara penuh.

Dalam masalah mahar, wajib hukumnya seorang lelaki memuliakan wanita dan memberikan sesuatu yang paling bagus menurut kemampuannya, dan bagi wanita boleh meminta mahar kepada calon yang akan menikahinya, namun lebih baik kalau mahar yang diminta itu yang mudah di dapat dan tidak memberatkan calon suaminya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih).

Namun jika calon suami ingin memberi lebih kepada calon istrinya, itu tidak menjadi masalah, asal dia rela dan ikhlas dengan pemberian tersebut, seperti yag tertulis dalam QS. An-Nissa:4

“Berikanlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan …” (QS An-Nissaa :4).

Ijab adalah ungkapan pertama kali yang diucapkan wali wanita dan Qobul adalah ungkapan penerimaan yang diucapkan oleh calon suami. Ijab qobul boleh dilakukan dengan bahasa, ucapan dan ungkapan apa saja yang tujuannya diketahui untuk menikah. Hasil dari akad nikah ini kemudian dicatat oleh penghulu (KUA) untuk dicatatkan dalam berita acara pernikahan dan masing-masing akan diberikan buku nikah suami dan istri.

Nah setelah akad nikah selesai, selanjutnya diadakan walimatul ‘Ursy

Apa sih walimatul ‘ursy dan bagaimana hukumnya ?

Islam melarang umatnya untuk mengadakan akad nikah secara diam-diam, terutama setelah dukhul (masuk) pengantin, seperti yang diperintahkan Nabi kepada Abdurrahman bin Auf dan berdasarkan hadits yang dibawakan Buraidah Ibnul Khashif, katanya : “Ketika Ali (Ali Bin Abi Thalib) meminang Fatimah (binti Muhammad Rasulullah) r.a, maka Rasulullah SAW bersabda: “Perkawinan (dalam riwayat lain kedua mempelai) harus mengadakan pesta perkawinan (walimah). Selanjutnya Sa’ad berkata : Saya akan menyumbang seekor kambing.Yang lain menyahut:”Saya akan menyumbangkan gandum sekian..sekian”. Dalam riwayat lain:”Maka terkumpullah dari kelompok kaum Anshor sekian gandum.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani).

Jadi walimatul ’ursy adalah pengumuman atau resepsi atau pesta pernikahan yang diselenggarakan ketika akad nikah sudah selesai dilaksanakan. Dan walimatul ‘ursy ini sangat dianjurkan..

Resepsi yang dimaksud disini bukan dalam arti pesta pora dan bermewah-mewahan, namun pesta yang dimaksudkan adalah pesta dimana menghidangkan makanan untuk tamu-tamu yang datang dengan hidangan yang sesuai dengan kemampuan, walau hanya sekedar memotong 1 ekor kambing (mungkin kalau Indonesia bisa dikategorikan 1 ekor ayam) dan bahkan kalau dilihat dari hadist di atas, para tetangga boleh memberikan sumbangan makanan (istilah betawinya saweran kali ya ?). Dan yang lebih diutamakan disana diundang juga orang-orang miskin, bahkan dalam satu riwayat disunahkan adanya anak yatim yang juga turut diundang.

Adab-adab dalam walimatul ‘ursy

1. Bagi pengantin (wanita) dan tamu undangannya tidak diperkenankan untuk tabaruj. Memamerkan perhiasan dan berdandan berlebihan. Cukup sekedarnya saja yang penting rapi dan bersih. Dan harus tetap menutup aurat.

2. Tidak adanya ikhtilat (campur baur) antara ikhwan dan akhwat. Hendaknya tempat untuk tamu undangan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dimaksudkan agar pandangan terpelihara, mengingat ketika menghadiri pesta semacam ini biasanya tamu undangan berdandannya beda dan tak jarang pula yang melebihi pengantinnya.

3. Disunahkan untuk mengundang orang miskin & anak yatim bukan hanya orang kaya saja yang diundang.

4. Tidak berlebih-lebihan dalam mengeluarkan harta juga makanan, sehingga banyak yang mubazir.

5. Boleh mengadakan hiburan berupa tabuh2an dari rebana dan yang tidak merusak akidah umat Islam

Sedang adab bagi tamu undangan adalah :

1. Menghadiri undangan walimah apabila dia diundang. Rasul bersabda: ”Apabila kalian diundang pada acara walimah, maka datangilah” (HR Bukhari Muslim). Namun jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk hadir (misal yang mengundang berlainan propinsi yang untuk kesana butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit, atau kita sedang sakit), maka ucapan dan doa melalui telepon dan sms atau media lain diperkenankan.

2. Berpakaian rapi dan sopan serta tetap menutup aurat bagi wanita dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

3. Tidak mengajak orang yang tidak diundang oleh tuan rumah. Namun bagi mereka yang tidak diundang diperbolehkan meminta ikut kepada yang diundang tersebut, selama diperkirakan bahwa tuan rumah akan mengijinkannya.

4. Meninggalkan acara walimah sesegera mungkin jika terdapat kemaksiatan disana.

5. Mendoakan kepada kedua mempelai dengan doa ”Barrokallahu laka wabbarroka ’alaika wajama’a baynakumma fii khair” (Semoga Allah Memberi berkah kepadamu dan kepada apa-apa yang diberikan-Nya kepadamu, serta semoga Allah menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan). Dan tidak diperbolehkan mengucapkan doa Birrafa’ wal banin”, Ucapan semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak tersebut, dilarang dalam Islam. Hal ini sesuai dengan hadits: Dari Al-Hasan bahwa Aqil bin Abi Talib kawin dengan seorang wanita dari Jasyam.Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah :”Bir rafa’ wal banin”. Aqil bin Abi Talib mencegah, katanya:”Jangan mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya”. Para tamu bertanya: “Lalu,apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?” Aqil menjelaskan, ucapkanlah: “Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan”. Demikian ucapan yang diperintahkan Rasul (H.R An-Nasai,Ibnu Majah, dll)

Demikian sedikit yang saya bisa sampaikan kepada ikhwah fillah. Intinya bagaimanapun walimah yang akan kita selenggarakan sebaiknya sederhana namun tetap sesuai syariat, agar Allah ridho dan pernikahan kita membawa kepada kehidupan selanjutnya yang penuh keberkahan.

Hambatan dan rintangan pasti akan datang, terlebih dari keluarga yang menginginkan pernikahan anaknya mewah meriah dan banyak tamu yang datang. Jadi sebaiknya segala sesuatu dibicarakan baik-baik dengan orang tua agar tidak mendekatkan kepada pesta yang maksiat.

Pun kalau pada kenyataannya orang tua ingin tetap pada pendiriannya, perbanyaklah istighfar, sambil terus bernegosiasi dan bermusyawarah dengan pihak keluarga, agar kedua belah pihak nantinya bisa puas dengan acara tersebut. Jauh-jauh hari sebaiknya sudah diberitahukan kepada orang tua atau keluarga bahwa pernikahan yang diinginkan adalah yang islami dan tidak melanggar syariat.

Wallahu a’lam bi shawab

Wassalamu’alaikum wr.wb.

sumber : kotasantri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *